Minggu, 20 Oktober 2019

Analisis Cerpen 'MUNGGAHAN' Karya Zulfa Ihsan



 Sesuai dengan tugas kami Kelompok 2 pada mata kuliah Apresiasi Prosa yaitu secara berkelompok menganalisis sebuah cerpen, kami memiliki alasan mengapa memilih cerpen Munggahan Karya Zulfa Ihsan ini berdasarkan poin berikut,
1. Judul : Dari judulnya Munggahan sudah menimbulkan tanda tanya atau menarik minat pembaca.  Kata Munggahan sungguh terdengar asing. Dari sini kami memilih cerpen tersebut karena kami tertarik untuk mengupas cerpen tersebut.
2. Tema : setelah kami membacanya, cerpen tersebut mengusung tema islami dan tradisi. Di zaman modern ini perlu disampaikan nilai-nilai moral untuk membangun karakter penerus bangsa. Maka semakin menambah minat kami untuk memilih cerpen tersebut.n
Kesan & Pesan : Pesan yang disampaikan penulis 3. sungguh mengena di benak kami. Tentang bagaimana rasanya ketidakberdayaan melakukan tradisi yang biasa dilakukan karena sedang merantau menimba ilmu. Tentunya dengan nasihat bijak dari tokoh nenek sang penulis memberikan kesan hangat bagi kami.


  



ANALISIS CERPEN “MUNGGAHAN” KARYA ZULFA IHSAN 


Dosen pengampu:
Siswanto, S.Pd., M.Pd. (198407222015041001)

Oleh:
Sheila Ayu Dwidarani M. (180210402094)
Yonda Deswi Ramadhanya (180210402095)
Adinda Dwi Zuhrotun Nisa’ (180210402096)




PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
JURUSAN BAHASA DAN SENI
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS JEMBER
2019




KATA  PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena limpahan rahmat, taufik, dan hidayah-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah “Analisis Cerpen Munggahan Karya Zulfa Ihsan” sesuai dengan waktu yang telah ditentukan, guna memenuhi tugas Mata Kuliah Apresiasi Prosa.
Kami menyadari bahwa dalam pembuatan makalah ini masih jauh dari kata sempurna, untuk itu kami mengharap kritik dan saran yang bersifat konstruktif. Dalam penyelesaian makalah ini penulis mengucapkan terima kasih kepada pihak-pihak yang telah membantu dan semoga bermanfaat bagi kita semua.



Jember, 17 Oktober 2019


Penyusun











DAFTAR ISI

KATA  PENGANTAR ii
DAFTAR ISI iii
BAB I  PENDAHULUAN 1
1.1 Latar Belakang 1
1.2 Rumusan Masalah 1
1.3 Tujuan 1
1.4 Manfaat 2
BAB II PEMBAHASAN 3
2.1 Analisis tema dalam cerpen “Munggahan” 3
2.2 Analisis plot dalam cerpen “Munggahan” 4
2.3 Analisis latar dalam cerpen “Munggahan” 5
2.4 Analisis tokoh dan penokohan dalam cerpen “Munggahan” 6
2.5 Analisis gaya bahasa dalam cerpen “Munggahan” 7
2.6 Analisis simbol dalam cerpen “Munggahan” 11
BAB III PENUTUP 13
3.1 Kesimpulan 13
3.2 Saran 13
DAFTAR PUSTAKA 14


BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Karya sastra, secara langsung atau tidak langsung menjadi pintu pembuka untuk memahami unsur karya sastra secara keseluruhan yang merujuk pada upaya memahami bentuk pemaparan dan cara yang digunakan dalam memaparkan gagasannya. Cerpen merupakan salah satu karya sastra berbentuk prosa. Menurut Husnan dkk (1998:81), prosa adalah karangan yang berbentuk prosa, artinya tidak terikat oleh aturan tertentu. Surana (1982:27) menyatakan bahwa cerpen adalah hasil sastra yang menceritakan suatu (sejemput) kejadian dalam kehidupan pelakunya. Cerpen sesuai namanya adalah cerita pendek. Jassin dalam Nurgiyantoro (2000:10) mengatakan bahwa cerpen adalah sebuah cerita yang selesai dalam sekali duduk. Cerpen merupakan jenis karya sastra yang paling bayak dibaca orang dengan pemahaman yang cukup memadai. Karya sastra adalah bentuk komunikasi yang menggunakan sarana bahasa dengan memanfaatkan segala kemungkinan yang tersedia (Sudjiman 1983:5-7; Sungkowati 2002:73). Karya sastra, khususnya fiksi, sering disebut sebagai dunia dalam kemungkinan dan dunia dalam kata. Dunia yang diciptakan pengarang dibangun, ditawarkan, diabstraksikan, dan ditafsirkan melalui bahasa.
Rumusan Masalah
Masalah dalam makalah ini dapat dirumuskan sebagai berikut:
Bagaimana analisis tema dalam cerpen “Munggahan”?
Bagaimana analisis plot dalam cerpen “Munggahan”?
Bagaimana analisis latar dalam cerpen “Munggahan”?
Bagaimana analisis tokoh dan penokohan dalam cerpen “Munggahan”?
Bagaimana analisis gaya bahasa  dalam cerpen “Munggahan”?
Bagaimana analisis simbol dalam cerpen “Munggahan”?
Tujuan
Berdasarkan rumusan masalah yang telah dipaparkan, tujuan makalah ini sebagai berikut:
Untuk mengetahui analisis tema dalam cerpen “Munggahan”
Untuk mengetahui analisis plot dalam cerpen “Munggahan”
Untuk mengetahui analisis latar dalam cerpen “Munggahan”
Untuk mengetahui analisis tokoh dan penokohan dalam cerpen “Munggahan”
Untuk mengetahui analisis gaya bahasa  dalam cerpen “Munggahan”
Untuk mengetahui analisis simbol dalam cerpen “Munggahan”
Manfaat
Manfaat makalah ini adalah sebagai berikut:
Memberikan pengetahuan tentang analisis tema dalam cerpen “Munggahan”
Dapat menjadi pengetahuan analisis plot dalam cerpen “Munggahan”
Menambah pengetahuan analisis latar dalam cerpen “Munggahan”
Mengetahui analisis tokoh dan penokohan dalam cerpen “Munggahan”
Memberikan pengetahuan analisis gaya bahasa  dalam cerpen “Munggahan”
Mengetahui analisis simbol dalam cerpen “Munggahan”














BAB II PEMBAHASAN
Analisis tema dalam cerpen “Munggahan”
Setiap tulisan harus memiliki pesan atau arti yang tersirat di dalamnya. Sebuah tema adalah seperti sebuah tali yang menghubungkan awal dan akhir cerita dimana penulis menggantungkan alur, karakter, setting cerita dan lainnya.
Tema merupakan gagasan dasar umum yang menopang sebuah karya sastradan yang terkandung di dalam teks sebagai stuktur semantic dan yang menyangkut persamaan-persamaan atau perbedaan-perbedaan.
Tema disaring dari motif-motif yang terdapat dalam karya yang bersangkutan yang menentukan hadirnya peristiwa-peristiwa, konflik, dan situasi tertentu. Tema dalam banyak hal bersifat ”mengikat” kehadiran atau ketidakhadiran peristiwa, konflik serta situasi tertentu termasuk berbagai unsur intrinsik yang lain. Tema menjadi dasar pengembangan seluruhcerita, maka tema pun bersifat menjiwai seluruh bagian cerita itu. Tema mempunyai generalisasi yang umum, lebih luas dan abstrak.
Dalam menentukan tema dalam suatu cerpen ada beberapa hal yang harus diperhatikan agar menentukan tema lebih mudah. Yaitu:
Peristiwa yang menonjol dalam cerpen
Peristiwa yang menjadi konflik antar tokoh
Situasi sepanjang cerita
Tema dapat menyangkut segala persoalan di kehidupan. Antara lain masalah kemanusiaan, kekuasaan, kasihsayang, keagamaan, dan sebagainya.
Membaca merupakan langkah pertama dan utama yang mutlak dilakukan seorang penganalisis sebagai upaya untuk memahami isi cerita beserta unsur-unsur yang ada dalam cerita. Setelah membaca kemudian melakukan identifikasi terhadap isi cerita. Langkah selanjutnya mengaitkan hasil identifikasi dengan teori sastra yang digunakan, disertai dengan bukti dan alasan dalam bentuk pemaparan atau penjelasan. Setelah kegiatan analisis tersebut maka adapun tema yang dapat kita ambil dari cerpen “MUNGGAHAN” oleh Zulfa Ihsan adalah tradisi.
Analisis tema tersebut disertai bukti berupa sederet kalimat dalam cerpen yang menerangkan tradisi. Berikut adalah bukti dari analisis tema dari cerpen “MUNGGAHAN” berupa cuplikan kalimat dari cerpen:
Ciri khas Indonesia budaya gotong-royong masih tertanam kuat di kampungku. Terlihat ketika di salah satu rumah mengadakan hajatan pernikahanatau 7 harian orang meninggal, para penduduk bergotong-royong memasak makanan khas yang akan disajikan nanti. Apalagi ketika akan mendekati bulan Ramadhan, karena kampong halamanku masih kental dengan budaya sunda, kami sering mengadakan munggahan.
Munggahan adalah tradisi masyarakat Islam suku Sunda untuk menyambut datangnya bulan Ramadhan. Munggahan biasanya dilakukan satu atau dua hari sebelum bulan Ramadhan atau di akhir bulan Sya’ban.
Menjelang bulan puasa biasanya aku pergi bersama nenek dan mamang berziarah ke makam Aki dan silaturahmi kekerabat dekat nenek. Sepulang berziarah dan silaturahmi, kami memasak makanan yang nantinya akan dimakan bersama dengan mamang, bibi, sepupu dan saudaraku lainnya.
Kelapa yang dikupas nantinya akan diparut dan dijadikan bahan dasar pembuatan awug. Gula merah dan kelapa parut nantinya akan dicampur yang menjadi ciri khas citra rasa awug. Makanan khas inilah yang membuat masa beberapa tahun silam di kampong halaman hadir mengalir deras di pikiranku..
Analisis plot dalam cerpen “Munggahan”
       Plot merupakan unsur fiksi yang penting, bahkan tidak sedikit orang yang menganggapnya sebagai yang terpenting di antara berbagai unsur fiksi yang lain. Tinjauan struktual terhadap karya fiksi pun sering lebih di tekankan pada pembicaraan plot, walu mungkin mempergunakan istilah lain. Alur atau plot adalah cerita yang berisi urutan kejadian, namun tiap kejadian itu hanya dihubungkan secara sebab akibat, peristiwa yang satu disebabkan atau menyebabkan terjadinya peristiwa yang lain." (Stanton dalam Burhan Nurgiyantoro, 2012:113). Menurut Kenny dalam Burhan Nurgiyantoro mengemukakan plot sebagai peristiwa-peristiwa yang ditampilkan dalam cerita yang tidak bersifat sederhana, karena pengarang menyusun peristiwa-peristiwa iu berdasarkan kaitan sebab akibat.
       Penampilan peristiwa demi peristiwa yang hanya mendasarkan diri dari urutan waktu saja belum merupakan plot, agar menjadi suatu plot maka peristiwa-peristiwa tadi harus diolah dan disiasati secara kreatif. Sehingga hasil pengolahan dan penyiasatan itu sendiri merupakan sesuatu yang indah dan menarik, khususnya dalam kaitannya dengan karya fiksi yang bersangkutan secara keseluruhan.
      Wujud alur dalam karya sastra biasanya berupa jalinan peristiwa yang memperlihatkan koherensi atau kepaduan tertentu. Kepaduan alur dalam sebuah karya sastra diwujudkan oleh interaksi tokoh, tema, karena akibat, atau ketiganya.
       Ada 3 jenis alur dalam karya sastra, yakni alur maju, alur mundur, dan alur campuran.
Dalam Cerpen “Munggahan” alur cerita yang digunakan adalah Alur mundur. Di paragraf pertama menjelaskan bagaimana kegiatan penulis yang mengadakan rapat di warung angkringan dan pada paragraf 2 penulis teringat kembali masa kecil dikampung halamannya dengan tradisi yang menjadi ciri khas disana. Alur mempunyai tahap-tahap sebagai berikut :
Tahap perkenalan atau Eksposisi
Adalah tahap permulaan suatu cerita yang di mulai suatu kejadian tetapi belum ada ketegangan (perkenalan para tokoh, reaksi antar pelaku, penggambaran fisik, penggambaran tempat). Dalam Cerpen “Munggahan” tahap perkenalan terdapat pada Paragraf 1. Dalam paragraf ini penulis menjelaskan aktivitas nya saat itu, apa itu munggahan, dan bagaimana kehidupannya.
Tahap klimaks
Adalah tahap dimana adanya ketegangan mulai memuncak.
Tahap penyelesaian
Adalah tahap akhir cerita, pada bagian ini biasanya berisi penjelasan tentang nasib-nasib yang dialami tokoh setelah mengalami peristiwa puncak itu.
Analisis latar dalam cerpen “Munggahan”
Latar adalah keterangan mengenai ruang, waktu serta suasana terjadinya peristiwa-peristiwa didalam suatu karya sastra. Atau definisi latar yang lainnya adalah unsur intrinsik pada karya sastra yang meliputi ruang, waktu serta suasana yang terjadi pada suatu peristiwa didalam karya sastra.

 ‘Di meja nomor 7, aku bersama Siti kawanku menunggu kawan lainnya datang untuk menghadiri rapat pengurus UKM Pers mahasiswa. Ini sudah kedua kalinya aku mengadakan rapat di warung angkringan bernama Nol Kilometer, lebih tepatnya di jalan Semanggi.  …’
Dari kutipan tersebut telah dijelaskan melalui sudut pandang pertama yaitu penulis. Bahwa cerpen berlatar di sebuah café/warung angkringan bernama Nol Kilometer di jalan Semanggi.

‘Malam kala itu begitu dingin sehingga menambah perut kami lapar keroncongan. …’
Dari kutipan di atas dapat diketahui bahwa latar waktu menunjukkan suasana di malam hari.

‘Kampung halamanku di Jatiluhur, pada masa remaja dulu, penuh dengan rerumputan ilalang dengan tumbuh subur pohon jati dan mahoni. …’
‘Apalagi ketika akan mendekati bulan Ramadhan, karena kampung halamanku masih kental dengan budaya sunda, kami sering mengadakan munggahan. …’
Latar tempat berikutnya adalah kampung halaman si ‘Aku’ berlokasi di Jatiluhur. Lebih tepatnya Kecamatan Jatiluhur, Kabupaten Purwakarta, Provinsi Jawa Barat. Pendeskripsian latar tersebut adalah flashback ke masa lalu si ‘Aku’.

‘Dan sebab itu semester demi semester kulalui dengan terbelenggu hiruk-pikuk dunia kampus.
Arus rutinitas menggerusku menjalani hidup yang monoton. Setiap akhir pekan, kuisi dengan kegiatan kampus atau mengerjakan tugas kuliah. Aku berusaha menghibur diri dengan cara menikmati setiap apa yang dikerjakan. …'
Latar berikutnya yaitu kampus tempat dimana si ‘Aku’ menjelaskan rutinitas kesibukannya yang monoton.
Analisis tokoh dan penokohan dalam cerpen “Munggahan”
Tokoh cerita adalah individu rekaan yang mempunyai watak dan perilaku tertentu sebagai pelaku yang mengalami peristiwa dalam cerita. Penokohan adalah penggambaran atau pelukisan mengenai tokoh cerita baik lahirnya maupun batinnya oleh seorang pengarang. Berikut adalah analisis tokoh –penokohan pada cerpen Munggahan karya Zulfa Ihsan
Perhatikan kutipan berikut :

  ‘Di meja nomor 7, aku bersama Siti kawanku menunggu kawan lainnya datang untuk menghadiri
           rapat pengurus UKM Pers mahasiswa. …’
… “Assalamu’alaikum, mbak mas sudah nunggu daritadi?” tanya Ami, salah satu adik pengurus
          satu angkatan dibawahku. Ia datang bersama Aini juga pengurus. …
‘Tempatku menghabiskan masa kecil sampai tamat SMA bersama nenek. …’
‘Sambil menyuruhku biasanya nenek bilang, “lalaki teh kudu loba kabisa, ulah khoream, komo
          lamun geus boga istri mah”. Begitulah nenek, setiap hari sering menasehatiku, walaupun sedikit
         menggerutu, namun tatkala setelah merantau jauh, aku sadar bahwa pepatah nasihat yang
        disampaikan nenek ada benarnya. …’
Pada kutipan di atas dapat diketahui bahwa tokoh utama dalam cerpen tersebut adalah ‘Aku’ sang penulis. Penggambaran tokoh melalui sudut pandang orang pertama. Dapat kita ketahui bahwa seluruh tokoh selain ‘aku’ sang penulis merupakan tokoh yang berkaitan secara langsung, karena tokoh ‘aku’ mendeskripsikan tokoh lainnya baik melalui percakapan atau penggambaran tokoh.

Tokoh Utama :
-Aku (penulis) melalui sudut pandang pertama dapat diketahui tokoh utama adalah ‘Aku’ si penulis.
 ‘Aku’ adalah seorang mahasiswa perantauan yang rindu akan kampung halamannya dan tradisi yang rutin dilakukan menjelang hari raya. Namun pada tahun ini tidak dapat melakukan tradisinya karena berhalangan oleh kegiatan padatnya menjadi mahasiswa.
  Dapat diketahui bahwa tokoh ‘Aku’ memiliki watak : -baik & sabar (dari pendeskripsian diri pada saat
menunggu rekan lainnya saat akan melaksanakan rapat. Serta kesabaran ‘Aku’ menahan diri untuk pulang ke kampung halamannya karena rindu akan momen tradisi sebelum lebaran tiba.

Tokoh Tambahan :
-Siti (kawan si ‘Aku’ dan pengurus) memiliki watak : -baik & sabar (ikut menunggu rekan lain saat akan melaksanakan rapat bersama si ‘Aku’.
-Ami (adik tingkat si ‘Aku’ dan pengurus) memiliki watak : -baik & ramah (saat berbincang)
-Aini (kawan si ‘Aku’ dan pengurus) memiliki watak : -baik
-Nenek  (nenek si ‘Aku’) memiliki watak : -baik dan suka menasehati (dari pendeskripsian si ‘Aku’ dan juga percakapan antara ‘Aku’ dan nenek, dimana nenek menasehati si ‘Aku’ dengan bahasa sunda).
Analisis gaya bahasa dalam cerpen “Munggahan”
Gaya bahasa atau yang sering juga disebut bahasa figuratif (figure of speech) atau istilah lain dari pemajasan adalah suatu bentuk penggunaan bahasa yang maknanya menyimpang dari pemakaian yang biasa, baku atau urutan kata dengan tujuan untuk mencapai efek tertentu, yaitu efek keindahan (Nurgiyantoro, 2014: 211). Gaya bahasa dapat disamakan dengan kemasan suatu gagasan (dress of thought). Dengan kemasan (gaya bahasa) yang menarik dan khas, pengarang dapat menarik perhatian pembaca.
Majas dibagi menjadi empat kelompok besar. Empat kelompok besar tersebut yaitu majas perbandingan, majas pertentangan, majas pertautan, dan majas perulangan. (Tarigan, 2013:6)
1) Gaya bahasa perbandingan
Rachmat Djoko Pradopo (1997: 62) berpendapat bahwa gaya bahasa perbandingan ialah gaya bahasa kiasan yang menyamakan satu hal dengan hal lain dengan mempergunakan kata-kata perbandingan seperti: bagai, sebagai, bak, seperti, semisal, seumpama, laksana, sepantun, penak, dan kata-kata perbandingan yang lain.
Asosiasi
Perbandingan dua hal yang berbeda namun dianggap sama yang menggunakan kata seperti, umpama, ibarat.
Metafora
Majas yang berisi ungkapan secara langsung berupa perbandingan analogis.
Personifikasi
Membandingkan benda-benda yang tak bernyawa seakan-akan bernyawa atau hidup dengan sifat seperti manusia.
Alegori 
Penggunaan bahasa yang menyatakan dengan cara lain dengan kiasan dan penggambaran.
Simbolik
Majas yang menggunakan kiasan atau melukiskan dengan menggunakan simbolik atau lambang dalam menyatakan maksudnya.
Dalam cerpen ini yang menggunakan majas perbandingan terdapat pada kalimat:
“Sambil mencicipi ketan dengan taburan kelapa di atasnya. Aku memejam, merasakan nikmatnya perpaduan antara ketan, kelapa parut dan gula merah. Rasanya seperti awug makanan khas kampung halamanku.”
“Setiap matahari terbit, seiring kokok ayam membangunkan, penduduk sudah bangun mengerjakan urusan masing-masing.”
2) Gaya bahasa perulangan
Ade Nurdin, Yani Maryani, dan Mumu (2004: 24) berpendapat bahwa gaya bahasa perulangan adalah gaya bahasa yang mengulang kata demi kata, entah itu yang diulang pada bagian depan, tengah, atau akhir sebuah kalimat.
Aliterasi
Kata-kata yang memanfatkan kata yang permulaannya sama dengan bunyinya.
Pleonasme
Majas yang menggunakan kata-kata dengan berlebihan untuk menegaskan arti suatu kata.
Anataklasis
Majas yang mengandung pengulangan kata yang sama, dengan makna yang berbeda.
Repetisi
Majas perulangan kata atau kelompok kata yang sama dalam menarik perhatian atau menegaskan
Paralelisme
Majas perulangan yang pada umumnya terdapat dalam kalimat yang disusun atas kalimat yang lain.
Dalam cerpen ini yang menggunakan majas perulangan terdapat pada kalimat:
“Di meja nomor 7, aku bersama Siti kawanku menunggu kawan lainnya datang untuk menghadiri rapat pengurus UKM Pers mahasiswa.”
“Untuk sekedar melepas rindu, aku hanya bisa bertatap muka lewat videocall di aplikasi messengger.”
3) Gaya bahasa pertautan
Gaya bahasa pada suatu ungkapan dalam kalimat berkias yang memiliki hubungan terhadap suatu hal yang ingin diutarakan atau bertautan dengan gagasan, ingatan.
Sinekdode
Penggunaan kata yang sama dengan faktanya yang bertujuan memperjelas.
Metonimia
Pengungkapan berupa penggunaan nama benda yang lain seperti merek, atribut, atau ciri khas.
Alusio
Majas yang menggunakan kata-kata berkaitan dengan peristiwa umum yang terjadi atau penggunaan kata yang umum dalam menunjukkan maksud.
Eufimisme
Majas yang menggunakan kata-kata sopan dan halus.
Dalam cerpen ini yang menggunakan majas pertautan terdapat pada kalimat:
“Di meja nomor 7, aku bersama Siti kawanku menunggu kawan lainnya datang untuk menghadiri rapat pengurus UKM Pers mahasiswa. Ini sudah kedua kalinya aku mengadakan rapat di warung angkringan bernama Nol Kilometer, lebih tepatnya di jalan Semanggi.”
“Dengan desain semi-outdoor klasik dihiasi lampu-lampu neon bercahaya kuning yang dibungkus dengan anyaman bambu, ditambah alunan album musik E Beat G Ade, semakin menambah kesan klasik di dalamnya. Dindingnya dibiarkan polos menggunakan batu bata berwarna coklat ditempeli tulisan-tulisan berbahasa madura dan jawa, salah satunya bertuliskan “mboten enten engkang luweh sae kelawan griyo panggon wangsol”.”
“Sejenak melihat pelayan menggunakan baju kotak-kotak hitam merupakan seragam khas pelayan Nol Kilometer.”
“Diiringi lantunan lagu E Beat G Ade-Titip Rindu Pada Ayah, selanjutnya kami bersantap bersama-sama.”
“Mata pencaharian penduduk beraneka ragam. Ada yang bertani di kebun, menjadi guru ngaji, pengepul ikan di keramba apung danau, adapula yang mencari kayu jati untuk dijadikan bahan dasar mebel. Rata-rata penduduk di desaku sudah lanjut usia.”
4) Gaya bahasa pertentangan
Gaya bahasa pertentangan adalah gaya bahasa yang maknanya bertentangan dengan kata-kata yang ada.
Hiperbola
Majas yang memberikan kesan yang berlebihan dari kenyataannya agar lebih berkesan atau meminta perhatian.
Paradoks
Majas yang mengandung pertentangan antara pernyataan dengan fakta yang telah ada.
Anitesis
Majas yang menggunakan pasangan kata yang artinya berlawanan.
Litoses
Majas yang menyatakan dengan berlawanan dari kenyataannya yang bertujuan merendahkan diri.
Dalam cerpen ini yang menggunakan majas pertentangan terdapat pada kalimat:
“Entah kenapa warung angkringan ini disebut Nol Kilometer, barangkali sang pemilik ingin menyampaikan makna tersirat bahwa kemanapun kita pergi melanglang buana ke negeri antah berantah, kita akan selalu kembali ke titik Nol, titik dimana kita berpulang atau dilahirkan, sebuah tempat kita dibesarkan.”
“Malam kala itu begitu dingin sehingga menambah perut kami lapar keroncongan.”
“Di seputar danau, menancap menjulang tinggi gunung-gunung mengelilingi danau itu.”
“Dan sebab itu semester demi semester kulalui dengan terbelenggu hiruk-pikuk dunia kampus.”
Analisis simbol dalam cerpen “Munggahan”
Tanda mempunyai dua aspek yaitu penanda (signifier) dan petanda (signified). Penanda adalah bentuk formalnya yang menandai sesuatu yang disebut petanda, sedangkan petanda adalah sesuatu yang ditandai oleh petanda itu, yaitu artinya. Contoh, kata "ibu" merupakan tanda berupa satuan bunyi yang menandai arti "orang yang melahirkan kita" (Pradopo, 1995:120).
Simbol dalam cerpen ini:
“Munggahan”, Secara etimologis Munggahan berasal dari kata unggah yang memiliki arti mancat atau memasuki tempat yang agak tinggi. Kata unggah dalam kamus Basa Sunda berarti kecap pagawean nincak ti han-dap ka nu leuwih luhur, naek ka tempat nu leuwih luhur (Danadibrata, 2006:727), artinya kata kerja beranjak dari bawah ke yang lebih atas, naik ke tempat yang lebih atas. Di dalam Kamus Umum Bahasa Sunda (1992), munggah berarti hari pertama puasa pada tanggal satu bulan ramadhan. Mungkin banyak yang belum tahu tradisi Munggahan itu apa dan seperti apa. Tapi bagi masyarakat sunda (Jawa Barat) tradisi Munggahan sudah tidak asing lagi di telinga mereka. Bentuknya beragam, namun setiap daerah masih memiliki kesamaan. Di desa dan kota tradisi munggah (menyambut hari pertama puasa) masih terpelihara. Biasanya pada malam munggah, anggota keluarga yang merantaupun menyempatkan diri untuk mudik dan berkumpul bersama sanak keluarga. Munggah bukan sekadar sahur bersama. Di sana ada silaturahim, berdoa bersama, saling mengingatkan untuk membersihkan diri, dan ada pula yang mengamalkan sidekah munggah (sedekah pada sehari menjelang bulan puasa). Kata munggah memang sangat akrab dengan ibadah umat Islam, seperti juga dapat ditemui pada ibadah munggah haji. Selain itu, bagi masyarakat Islam Sunda, tradisi tersebut juga merupakan bentuk rasa hormat mereka dalam menyambut datangnya bulan Ramadhan. Karena bulan Ramadhan itu penuh berkah dan ampunan. Dimana ketika bulan Ramadhan Allah menurunkan rahmat dan pahala berlipat untuk setiap ibadah yang dilakukan manusia pada waktu itu.
Awug, kue awug adalah kue khas dari Sunda. Kue ini berwarna putih bercampur dengan warna coklat yang berasal dari campuran tepung beras, kelapa, aroma daun pandan dan gula merah yang dikukus di dalam aseupan (kukusan berbentuk lancip untuk membuat tumpeng) dengan beralaskan daun pisang. Kue ini biasanya dibuat oleh masyarakat lokal saat panen usai.
Berziarah, berkunjung ke tempat yang dianggap keramat atau mulia (seperti makam) untuk berkirim doa.
Matahari, benda angkasa, titik pusat tata surya berupa bola yang berisi gas yang mendatangkan terang dan panas pada bumi di siang hari.
Kampung, kelompok rumah yang merupakan bagian kota (biasanya dihuni orang berpenghasilan rendah).







BAB III PENUTUP
Kesimpulan
             Sebuah cepen dapat dianalisis dengan berbagai metode pendekakatan. Penulis menggunakan metode pendekatan objektif yaitu pendekatan yang memfokuskan perhatian kepada karya sastra itu sendiri. Pendekatan ini memandang karya sastra sebagai struktur yang otonom (tidak dipengaruhi oleh hal lain; berdiri sendiri) dan bebas dari hubungannya dengan realitas, pengarang maupun pembaca. Pendekatan ini juga disebut oleh Welek & Waren (1990) sebagai pendekatan intrinsik karena kajian difokuskan pada unsur intrinsik karya sastra yang dipandang memiliki kebulatan, koherensi, dan kebenaran sendiri.
            Pendekatan objektif pada prinsipnya memandang karya seni terpisah dari segala sesuatu yang berada di luar karya tersebut. Seni adalah karya seni itu sendiri, lepas dari segala faktor eksternal yang ada. Dalam melakukan analisis dengan sendirinya cukup dengan sesuatu yang sudah ada di dalam karya.
Saran
Dalam penyusunan makalah ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh sebab itu kritik dan saran yang membangun dari pembaca kami harapkan demi perbaikan makalah ini kedepannya.












DAFTAR PUSTAKA

Andriyanto, P. (2017). ANALISIS GAYA BAHASA DALAM KUMPULAN CERPEN "SAAT CINTA DATANG BELUM PADA WAKTUNYA" KARYA ARI PUSPARINI. DIKSATRASIA , 281.
Erni, J. H. (2018). ANALISIS GAYA BAHASA DALAM KUMPULAN CERPEN SENYUM.
kusumawati. (2010). ANALISIS PEMAKAIAN GAYA BAHASA PADA IKLAN. Jurnal Penelitian.
Riyono, A. (2017). GAYA BAHASA KUMPULAN CERPEN "MATA YANG ENAK DIPANDANG" KARYA AHMAD TOHARI. Jurnal Ilmiah.
https://blog.ugm.ac.id/2010/11/04/menyambut-ramadhan-dengan-tradisi-munggahan/
https://id.wikipedia.org/wiki/Kue_awug
Inriana, Rus. 2011. Tokoh dan Penokohan dalam Kajian Prosa. http://rhyri3n.blogspot.com/2011/05/tokoh-dan-penokohan-dalam-kajian-prosa.html?m=1
https://www.google.com/url?sa=t&source=web&rct=j&url=http”//file.upi.edu/Direktori/FPBS/JUR._PEND._BHS._DAN_SASTRA_INDONESIA/196606291991031-DENNY_ISKANDAR/Bahan_Ajar_Prosa-Fiksi_PLPG_SMP.pdf&ved=2ahUKEwjkpeKnhaIAhXBAnIKHZfECJQQFAjAAegQIBhAB&usg=AOvVaw10M6zTxgffyeKnHiRVNq-&cshid=157181531090
https://www.kompasiana.com/herlinarina/5a634d46bde5753eff77a682/analisis-tema-alur-tokoh-dan-amanat-dalam-cerpen-kisah-abrukuwah-karya-sori-siregar?page=all