Senin, 11 November 2019

ANALISIS BERDASARKAN STRATA NORMA PUISI “ABDI” KARYA MITA AGUSTINA OLEH SHEILA AYU D.M






 

ANALISIS BERDASARKAN STRATA NORMA
PUISI “ABDI” KARYA MITA AGUSTINA


Oleh:
Sheila Ayu Dwidarani M. (180210402094)



PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
JURUSAN BAHASA DAN SENI
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS JEMBER
2019








Puisi.
Abdi
Karya: Mita Agustina
Hari ini suasana sepi
Hanyutkan mimpi tuan kenari
Keras kepala takkan berarti
Walau sudah ditempa mati
Harga diri tetaplah harga diri
Yang tak bisa dijual kesana kemari
Hanya untuk kepentingan pribadi
Walau harus gantung diri
Demi negeri ku siap mengabdi


Analisis Berdasarkan Strata Norma


A.    Lapis Bunyi
Lapis Suara Lapis norma pertama adalah lapis bunyi. Bila orang membaca puisi, maka yang terdengar itu ialah rangkaian bunyi yang dibatasi jeda pendek, agak panjang, dan panjang. Tetapi suara itu bukan hanya suara yang tak berarti. Suara itu sesuai dengan konvensi bahasa, disusun begitu rupa hingga menimbulkan arti (Pradopo, 2003:66). Asonansi: perulangan bunyi vokal dalam deretan kata atau majas perulangan yang merujuk pada perulangan vokal pada kata / frasa.
·         Dalam baris pertama terdapat vokal (asonansi) bunyi “a” dan “i” pada kata hari, ini, suasana, sepi.
·         Dalam baris kedua terdapat asonansi bunyi “i” pada kata mimpi, kenari dan aliterasi bunyi “n” pada kata hanyutkan, tuan.
·         Dalam baris ketiga terdapat asonansi bunyi “a” pada kata kepala, berarti dan aliterasi bunyi “r” pada kata keras, berarti.
·         Dalam baris keempat terdapat asonansi bunyi “a” pada kata walau, mati.
·         Dalam baris kelima terdapat asonansi bunyi “a” dan “i” pada kata harga, diri dan aliterasi bunyi “r” pada kata harga, diri.
·         Dalam baris keenam terdapat asonansi bunyi “a”, “i” dan “e”  pada kata yang, tak, bisa, dijual, kesana, kemari dan aliterasi bunyi “k” pada kata tak, kesana, kemari.
·         Dalam baris ketujuh terdapat asonansi bunyi “i” pada kata kepentingan, pribadi.
·         Dalam baris kedelapan terdapat asonansi bunyi “a” pada kata walau, harus, gantung.
·         Dalam baris kesembilan terdapat asonansi bunyi “i” dan “e” pada kata demi, negeri, kusiap, mengabdi. 
B.     Lapis Arti
Lapis arti berupa rangkaian fonem, suku kata, kata, frase, dan kalimat. Lapis arti digunakan untuk memaknai puisi secara lebih lengkap dengan membuat sebuah puisi dengan bahasa yang padat menjadi sebuah prosa yang lebih jelas menceritakkan isi puisi. Kegiatan memprosakan puisi lazim disebut pharaphrase.
·         Baris pertama: keadaan yang sunyi, sepi.
·         Baris kedua:  kehanyutan mimpi (angan-angan) tuan kenari (pohon kenari yang tinggi).
·         Baris ketiga: keras kepala tidak mau menurut nasehat orang) takkan berarti (tidak berguna).
·         Baris keempat: walaupun sudah ditempa (dipukul, digembleng) mati (tidak bernyawa).
·         Baris kelima: harga diri akan tetap menjadi harga diri.
·         Baris keenam: tidak bisa dijual kemanapun.
·         Baris ketujuh: untuk keperluan diri sendiri.
·         Baris kedelapan: walau (pun) diharuskan untuk gantung diri (bunuh diri seseorang dengan menjerat leher dengan tali).
·         Baris kesembilan: siap mengabdi (menghamba, berbakti) pada negeri (bangsa).

C.     Lapis ketiga
Lapis Ketiga Rangkaian satuan-satuan arti itu menimbulkan lapis yang ketiga, yaitu objek-objek yang dikemukakan, latar, pelaku, dan semuanya itu berangkai menjadi dunia pengarang berupa cerita, lukisan, ataupun pernyataan.
Objek: sepi, mimpi, kenari (pohon), mati, harga diri, negeri.
Pelaku dan tokoh: pengabdi negeri
Latar suasana: sepi 
Pengabdi pada negeri, dalam keadaan yang sunyi dan menghanyutkan mimpi ia siap untuk terus mengabdi, melepaskan diri dari semua kepentingan pribadi walaupun harus menggantung diri. 

D.    Lapis Keempat
Lapis Keempat Lapis norma keempat adalah lapis ”dunia” yang dipandang dari titik pandang tertentu yang tidak perlu dinyatakan secara eksplisit karena sudah terkandung di dalamnya (implisit). Sebuah peristiwa dapat dikemukakan atau dinyatakan ”terdengar” atau ”terlihat”, bahkan peristiwa yang sama. Dalam puisi tersebut makna implisit yang terkandung, keteguhan hati seorang pengabdi untuk tetap dan terus mengabdi pada negeri apapun yang terjadi.  

E.     Lapis kelima
Lapis norma kelima adalah lapis metafisis, berupa sifat-sifat metafisik (yang sublim, yang tragis, mengerikan  atau menakutkan, dan yang suci). Dengan sifat-sifat ini karya sastra dapat memberikan renungan (kontemplasi) kepada pembaca. Dalam puisi ini lapis ini berupa, keadaan apapun yang terjadi seorang pengabdi yang telah bertekad mengabdi pada negeri akan terus berusaha menjaga negerinya dimanapun dan bagaimanapun. Pengorbanan, perjuangannya hanya untuk negerinya walaupun harus berakhir mati. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar