ANALISIS
BERDASARKAN STRATA NORMA
PUISI
“ABDI” KARYA MITA AGUSTINA
Oleh:
Sheila Ayu Dwidarani M. (180210402094)
PROGRAM STUDI
PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
JURUSAN BAHASA DAN SENI
FAKULTAS KEGURUAN DAN
ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS JEMBER
2019
Puisi.
Abdi
Karya: Mita Agustina
Hari
ini suasana sepi
Hanyutkan
mimpi tuan kenari
Keras
kepala takkan berarti
Walau
sudah ditempa mati
Harga
diri tetaplah harga diri
Yang
tak bisa dijual kesana kemari
Hanya
untuk kepentingan pribadi
Walau
harus gantung diri
Demi negeri ku siap mengabdi
Analisis
Berdasarkan Strata Norma
A. Lapis
Bunyi
Lapis Suara Lapis norma pertama adalah lapis bunyi.
Bila orang membaca puisi, maka yang terdengar itu ialah rangkaian bunyi yang
dibatasi jeda pendek, agak panjang, dan panjang. Tetapi suara itu bukan hanya
suara yang tak berarti. Suara itu sesuai dengan konvensi bahasa, disusun begitu
rupa hingga menimbulkan arti (Pradopo, 2003:66). Asonansi: perulangan bunyi vokal
dalam deretan kata atau majas perulangan yang merujuk pada perulangan vokal
pada kata / frasa.
·
Dalam baris pertama terdapat
vokal (asonansi) bunyi “a” dan “i” pada kata hari, ini, suasana, sepi.
·
Dalam baris kedua
terdapat asonansi bunyi “i” pada kata mimpi, kenari dan aliterasi bunyi “n”
pada kata hanyutkan, tuan.
·
Dalam baris ketiga
terdapat asonansi bunyi “a” pada kata kepala, berarti dan aliterasi bunyi “r”
pada kata keras, berarti.
·
Dalam baris keempat
terdapat asonansi bunyi “a” pada kata walau, mati.
·
Dalam baris kelima
terdapat asonansi bunyi “a” dan “i” pada kata harga, diri dan aliterasi bunyi
“r” pada kata harga, diri.
·
Dalam baris keenam
terdapat asonansi bunyi “a”, “i” dan “e”
pada kata yang, tak, bisa, dijual, kesana, kemari dan aliterasi bunyi
“k” pada kata tak, kesana, kemari.
·
Dalam baris ketujuh
terdapat asonansi bunyi “i” pada kata kepentingan, pribadi.
·
Dalam baris kedelapan
terdapat asonansi bunyi “a” pada kata walau, harus, gantung.
·
Dalam baris kesembilan
terdapat asonansi bunyi “i” dan “e” pada kata demi, negeri, kusiap, mengabdi.
B. Lapis
Arti
Lapis arti berupa rangkaian fonem, suku
kata, kata, frase, dan kalimat. Lapis arti digunakan untuk memaknai puisi
secara lebih lengkap dengan membuat sebuah puisi dengan bahasa yang padat
menjadi sebuah prosa yang lebih jelas menceritakkan isi puisi. Kegiatan
memprosakan puisi lazim disebut pharaphrase.
·
Baris pertama: keadaan
yang sunyi, sepi.
·
Baris kedua: kehanyutan mimpi (angan-angan) tuan kenari (pohon
kenari yang tinggi).
·
Baris ketiga: keras kepala
tidak mau menurut nasehat orang) takkan berarti (tidak berguna).
·
Baris keempat: walaupun
sudah ditempa (dipukul, digembleng) mati (tidak bernyawa).
·
Baris kelima: harga
diri akan tetap menjadi harga diri.
·
Baris keenam: tidak
bisa dijual kemanapun.
·
Baris ketujuh: untuk keperluan
diri sendiri.
·
Baris kedelapan: walau
(pun) diharuskan untuk gantung diri (bunuh diri seseorang dengan menjerat leher
dengan tali).
·
Baris kesembilan: siap
mengabdi (menghamba, berbakti) pada negeri (bangsa).
C. Lapis
ketiga
Lapis Ketiga Rangkaian satuan-satuan
arti itu menimbulkan lapis yang ketiga, yaitu objek-objek yang dikemukakan,
latar, pelaku, dan semuanya itu berangkai menjadi dunia pengarang berupa
cerita, lukisan, ataupun pernyataan.
Objek: sepi, mimpi, kenari (pohon),
mati, harga diri, negeri.
Pelaku dan tokoh: pengabdi negeri
Latar suasana: sepi
Pengabdi pada negeri, dalam keadaan yang
sunyi dan menghanyutkan mimpi ia siap untuk terus mengabdi, melepaskan diri
dari semua kepentingan pribadi walaupun harus menggantung diri.
D. Lapis
Keempat
Lapis Keempat Lapis norma keempat adalah
lapis ”dunia” yang dipandang dari titik pandang tertentu yang tidak perlu
dinyatakan secara eksplisit karena sudah terkandung di dalamnya (implisit).
Sebuah peristiwa dapat dikemukakan atau dinyatakan ”terdengar” atau ”terlihat”,
bahkan peristiwa yang sama. Dalam puisi tersebut makna implisit yang
terkandung, keteguhan hati seorang pengabdi untuk tetap dan terus mengabdi pada
negeri apapun yang terjadi.
E. Lapis
kelima
Lapis
norma kelima adalah lapis metafisis, berupa sifat-sifat metafisik (yang sublim,
yang tragis, mengerikan atau menakutkan, dan yang suci). Dengan
sifat-sifat ini karya sastra dapat memberikan renungan (kontemplasi) kepada
pembaca. Dalam puisi ini lapis ini berupa, keadaan apapun yang terjadi seorang pengabdi
yang telah bertekad mengabdi pada negeri akan terus berusaha menjaga negerinya
dimanapun dan bagaimanapun. Pengorbanan, perjuangannya hanya untuk negerinya
walaupun harus berakhir mati.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar