ANALISIS PUISI ‘SATUAN WAKTU’ KARYA
ROHMATUL ILMA BERDASARKAN STRATA NORMA
Oleh :
YONDA DESWI RAMADHANYA (180210402095)
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA DAN
SASTRA INDONESIA
JURUSAN BAHASA DAN SENI
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU
PENDIDIKAN
UNIVERSITAS JEMBER
2019
Puisi :
SATUAN WAKTU
Karya
: Rohmatul Ilma
Wajah cantik tampan rupawan
nan menggoda
Merupakan salah satu keindahan dunia
Tak peduli seberapa kagum dengan kemolekan itu semua
Tetap semua itu akan termakan usia
Bila kerentaan sudah lagi tak berdaya
Setiap makhluk hidup pun tak dapat menolaknya
Karena ajal telah memotong langkah waktu kita
Merupakan salah satu keindahan dunia
Tak peduli seberapa kagum dengan kemolekan itu semua
Tetap semua itu akan termakan usia
Bila kerentaan sudah lagi tak berdaya
Setiap makhluk hidup pun tak dapat menolaknya
Karena ajal telah memotong langkah waktu kita
Analisis Puisi Berdasarkan Strata
Norma
1.
Lapis Pertama : Bunyi
Bila orang membaca puisi, maka yang
terdengar itu ialah rangkaian bunyi yang dibatasi jeda pendek, agak panjang,
dan panjang. Suara sesuai dengan konvesi bahasa, disusun dengan begitu rupa
hingga menimbulkan arti. Dengan adanya satuan-satuan suara itu orang menangkap
artinya. Terdapat bunyi-bunyi istimewa atau khusus dalam mendapatkan efek
puitis/nilai seni. Pada puisi di atas dapat ditemukan bunyi sebagai berikut :
-Pada
baris pertama terdapat vocal (asonansi) bunyi ‘a’ ‘i’ pada kata wajah, cantik,
tampan, nan.
-Pada
baris kedua terdapat vocal (asonansi) bunyi ‘a’ ‘u’ pada kata salah, satu,
dunia.
-Pada baris ketiga terdapat vocal (asonansi) bunyi ‘a’ ‘i’ ‘u’ pada kata tak, peduli, kagum, itu.
-Pada baris keempat terdapat vocal (asonansi) bunyi ‘a’ ‘u’ pada kata tetap, semua, itu, akan, usia.
-Pada baris ketiga terdapat vocal (asonansi) bunyi ‘a’ ‘i’ ‘u’ pada kata tak, peduli, kagum, itu.
-Pada baris keempat terdapat vocal (asonansi) bunyi ‘a’ ‘u’ pada kata tetap, semua, itu, akan, usia.
-Pada
baris kelima terdapat vocal (asonansi) bunyi ‘a’ ‘i’ pada kata bila, lagi, tak.
-Pada baris keenam terdapat vocal (asonansi) bunyi ‘a’ ‘u’ pada kata makhluk, hidup, dapat.
-Pada baris ketujuh terdapat vocal (asonansi) bunyi ‘a’ ‘u’ pada kata ajal, telah, langkah, waktu, kita.
-Pada baris keenam terdapat vocal (asonansi) bunyi ‘a’ ‘u’ pada kata makhluk, hidup, dapat.
-Pada baris ketujuh terdapat vocal (asonansi) bunyi ‘a’ ‘u’ pada kata ajal, telah, langkah, waktu, kita.
Pemilihan
kata oleh pengarang tergolong banyak menggunakan kata berakhiran ‘a’. Juga kata
kata dengan berisikan bunyi ‘a’ ‘i’ ‘u’, demikian pula dengan kata-kata
berbunyi vocal lain yang diselipkan di beberapa baris sehingga dalam tiap baris
puisi menghasilkan bunyi selaras dan indah.
2.
Lapis Kedua : Arti
Satuan
terkecil berupa fonem. Satuan fonem berupa suku kata dan kata. Kata bergabung
menjadi kelompok kata, kalimat, alinea, bait, bab, dan seluruh cerita. Itu semua
merupakan satuan arti.
Pada
baris pertama dan kedua :
Wajah cantik tampan rupawan nan menggoda
Merupakan salah satu keindahan dunia
Wajah cantik tampan rupawan nan menggoda
Merupakan salah satu keindahan dunia
Dari dua baris puisi di
atas menggambarkan keelokan wajah manusia semasa muda. Maksud dari ‘keindahan dunia’ pada baris kedua
maksudnya adalah karunia yang diciptakan Tuhan. Bisa membuat manusia bersyukur
dan mengingatNya atau malah terlena terkagum dan menjadi lupa kepada Tuhan.
Pada
baris ketiga, keempat, dan kelima :
Tak peduli seberapa kagum dengan kemolekan itu semua
Tetap semua itu akan termakan usia
Bila kerentaan sudah lagi tak berdaya
Tak peduli seberapa kagum dengan kemolekan itu semua
Tetap semua itu akan termakan usia
Bila kerentaan sudah lagi tak berdaya
Dari ketiga baris
tersebut menceritakan bahwa semua hal yang kita punya dan kita kagumi pasti
akan hilang ketika sudah tua. Maksud dari ‘termakan
usia’ maksudnya di saat kita menua. Wajah keriput, rambut memutih, yang tak
lagi menampilkan kecantikan dan ketampanan di masa muda.
Pada
baris keenam dan ketujuh :
Setiap makhluk hidup pun tak dapat menolaknya
Karena ajal telah memotong langkah waktu kita
Setiap makhluk hidup pun tak dapat menolaknya
Karena ajal telah memotong langkah waktu kita
Dari kedua baris
tersebut adalah akhir dari puisi. Dimana pada ‘ajal telah memotong langkah waktu kita’ memiliki arti bahwa apabila
sudah tiba ajal/kematian maka kita tidak dapat meneruskan kehidupan kita lagi. Hidup
telah berakhir.
3.
Lapis Ketiga : Latar, Objek, dan Pelaku
Lapis
ketiga ialah objek-objek yang dikemukakan, latar, pelaku, dan dunia pengarang
(Pradopo, 2012:18). Latar yang disebut juga sebagai landas tumpu menyarankan
pada pengertian tempat, hubungan waktu dan lingkungan sosial tempat terjadinya
peristiwa-peristiwa yang diceritakan (Abrams, 1981 : 175).
Pada
puisi di atas memiliki latar penggambaran flashback ke masa muda menuju masa yang
sekarang. Objek pada puisi di atas merupakan kematian/ajal yang pasti akan
datang di waktu yang sudah ditetapkan oleh Tuhan. Pelaku dalam puisi di atas
adalah penggambaran diri sendiri melalui perwujudan seseorang di masa mudanya.
4.
Lapis Keempat :
Dunia
Lapis
keempat ialah lapis yang dilihat dari titik pandang tertentu yang tak perlu
dinyatakan, tetapi terkandung di dalamnya. Sebuah peristiwa dalam sastra dapat
dikemukakan atau dinyatakan “terdengar” atau “terlihat”, bahkan peristiwa yang
sama, misalnya suara jendela pintu, dapat memperlihatkan aspek luar atau dalam
watak.
Pada
puisi di atas terdapat makna yang terkandung yaitu mengingatkan diri dan para
pembaca untuk tidak terlalu terlena dengan apa yang kita banggakan sekarang
serta untuk memanfaatkan waktu dengan baik agar tak menyesal di masa tua. Pengarang
ingin memberikan pesan untuk ingat kepada kematian.
5.
Lapis Kelima : Metafisis
Pada
lapis ke lima berupa sifat-sifat metafisis yang sublime, yang tragis, mengerikan
atau menakutkan dan yang suci dengan sifat-sifat ini seni dapat memberikan
renungan kepada pembaca. Pada lapis ini pembaca diajak untuk merenung dan
berpikir atau berimajinasi apa yang terdapat pada puisi yang sedang dibaca.
Tujuan adanya imajinasi ialah agar pembaca atau pendengar mampu memahami dan
benar-benar mengerti makna dari puisi tersebut. Akan tetapi, tidak setiap karya
sastra di dalamnya terdapat lapis metafisis seperti itu (Pradopo,2012:15).
Pada
puisi di atas terdapat sifat metafisis di dalamnya berupa renungan dan
pemikiran kritis tentang arti sebuah kehidupan. Menghidupkan pemikiran kritis
tentang kehidupan setelah kematian (akhirat).
DAFTAR
PUSTAKA
·
Pradopo, Rachmat Djoko. 2009. PENGKAJIAN PUISI . Yogyakarta: Gadjah
Mada University Press.
·
Hanafi, Yusuf Maulana dkk. 2017. ANALISIS STRATA NORMA
PUISI MAHAKAM KARYA KORRIE LAYUN RAMPAN. https://www.google.com/url?sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=1&cad=rja&uact=8&ved=2ahUKEwjkxuOJ9uPlAhVabysKHaGgCsMQFjAAegQIBhAC&url=https%3A%2F%2Fmedia.neliti.com%2Fmedia%2Fpublications%2F240546-analisis-strata-norma-puisi-mahakam-kary-c35a25dc.pdf&usg=AOvVaw17ZO_ubCTY_kl26MzLw5my
.Terakhir diakses pada 12 November 2019.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar