Senin, 11 November 2019

ANALISIS PUISI ‘SATUAN WAKTU’ KARYA ROHMATUL ILMA BERDASARKAN STRATA NORMA OLEH YONDA D.R



 


ANALISIS PUISI ‘SATUAN WAKTU’ KARYA ROHMATUL ILMA BERDASARKAN STRATA NORMA



Oleh :
YONDA DESWI RAMADHANYA (180210402095)







PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
JURUSAN BAHASA DAN SENI
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS JEMBER
2019









Puisi :
SATUAN WAKTU
Karya : Rohmatul Ilma

Wajah cantik tampan rupawan nan menggoda
Merupakan salah satu keindahan dunia
Tak peduli seberapa kagum dengan kemolekan itu semua
Tetap semua itu akan termakan usia
Bila kerentaan sudah lagi tak berdaya
Setiap makhluk hidup pun tak dapat menolaknya
Karena ajal telah memotong langkah waktu kita




Analisis Puisi Berdasarkan Strata Norma

1.      Lapis Pertama : Bunyi
Bila orang membaca puisi, maka yang terdengar itu ialah rangkaian bunyi yang dibatasi jeda pendek, agak panjang, dan panjang. Suara sesuai dengan konvesi bahasa, disusun dengan begitu rupa hingga menimbulkan arti. Dengan adanya satuan-satuan suara itu orang menangkap artinya. Terdapat bunyi-bunyi istimewa atau khusus dalam mendapatkan efek puitis/nilai seni. Pada puisi di atas dapat ditemukan bunyi sebagai berikut :
-Pada baris pertama terdapat vocal (asonansi) bunyi ‘a’ ‘i’ pada kata wajah, cantik, tampan, nan.
-Pada baris kedua terdapat vocal (asonansi) bunyi ‘a’ ‘u’ pada kata salah, satu, dunia.
-Pada baris ketiga terdapat vocal (asonansi) bunyi ‘a’ ‘i’ ‘u’ pada kata tak, peduli, kagum, itu.
-Pada baris keempat terdapat vocal (asonansi) bunyi ‘a’ ‘u’ pada kata tetap, semua, itu, akan, usia.
-Pada baris kelima terdapat vocal (asonansi) bunyi ‘a’ ‘i’ pada kata bila, lagi, tak.
-Pada baris keenam terdapat vocal (asonansi) bunyi ‘a’ ‘u’ pada kata makhluk, hidup, dapat.
-Pada baris ketujuh terdapat vocal (asonansi) bunyi ‘a’ ‘u’ pada kata ajal, telah, langkah, waktu, kita.
Pemilihan kata oleh pengarang tergolong banyak menggunakan kata berakhiran ‘a’. Juga kata kata dengan berisikan bunyi ‘a’ ‘i’ ‘u’, demikian pula dengan kata-kata berbunyi vocal lain yang diselipkan di beberapa baris sehingga dalam tiap baris puisi menghasilkan bunyi selaras dan indah. 

2.      Lapis Kedua : Arti
Satuan terkecil berupa fonem. Satuan fonem berupa suku kata dan kata. Kata bergabung menjadi kelompok kata, kalimat, alinea, bait, bab, dan seluruh cerita. Itu semua merupakan satuan arti.
Pada baris pertama dan kedua :
Wajah cantik tampan rupawan nan menggoda
Merupakan salah satu keindahan dunia
Dari dua baris puisi di atas menggambarkan keelokan wajah manusia semasa muda. Maksud dari ‘keindahan dunia’ pada baris kedua maksudnya adalah karunia yang diciptakan Tuhan. Bisa membuat manusia bersyukur dan mengingatNya atau malah terlena terkagum dan menjadi lupa kepada Tuhan.
Pada baris ketiga, keempat, dan kelima :
Tak peduli seberapa kagum dengan kemolekan itu semua
Tetap semua itu akan termakan usia
Bila kerentaan sudah lagi tak berdaya
Dari ketiga baris tersebut menceritakan bahwa semua hal yang kita punya dan kita kagumi pasti akan hilang ketika sudah tua. Maksud dari ‘termakan usia’ maksudnya di saat kita menua. Wajah keriput, rambut memutih, yang tak lagi menampilkan kecantikan dan ketampanan di masa muda.
Pada baris keenam dan ketujuh :
Setiap makhluk hidup pun tak dapat menolaknya
Karena ajal telah memotong langkah waktu kita
Dari kedua baris tersebut adalah akhir dari puisi. Dimana pada ‘ajal telah memotong langkah waktu kita’ memiliki arti bahwa apabila sudah tiba ajal/kematian maka kita tidak dapat meneruskan kehidupan kita lagi. Hidup telah berakhir.

3.      Lapis Ketiga : Latar, Objek, dan Pelaku
Lapis ketiga ialah objek-objek yang dikemukakan, latar, pelaku, dan dunia pengarang (Pradopo, 2012:18). Latar yang disebut juga sebagai landas tumpu menyarankan pada pengertian tempat, hubungan waktu dan lingkungan sosial tempat terjadinya peristiwa-peristiwa yang diceritakan (Abrams, 1981 : 175).
Pada puisi di atas memiliki latar penggambaran flashback ke masa muda menuju masa yang sekarang. Objek pada puisi di atas merupakan kematian/ajal yang pasti akan datang di waktu yang sudah ditetapkan oleh Tuhan. Pelaku dalam puisi di atas adalah penggambaran diri sendiri melalui perwujudan seseorang di masa mudanya.  

4.      Lapis Keempat : Dunia
Lapis keempat ialah lapis yang dilihat dari titik pandang tertentu yang tak perlu dinyatakan, tetapi terkandung di dalamnya. Sebuah peristiwa dalam sastra dapat dikemukakan atau dinyatakan “terdengar” atau “terlihat”, bahkan peristiwa yang sama, misalnya suara jendela pintu, dapat memperlihatkan aspek luar atau dalam watak.
Pada puisi di atas terdapat makna yang terkandung yaitu mengingatkan diri dan para pembaca untuk tidak terlalu terlena dengan apa yang kita banggakan sekarang serta untuk memanfaatkan waktu dengan baik agar tak menyesal di masa tua. Pengarang ingin memberikan pesan untuk ingat kepada kematian.

5.      Lapis Kelima : Metafisis
Pada lapis ke lima berupa sifat-sifat metafisis yang sublime, yang tragis, mengerikan atau menakutkan dan yang suci dengan sifat-sifat ini seni dapat memberikan renungan kepada pembaca. Pada lapis ini pembaca diajak untuk merenung dan berpikir atau berimajinasi apa yang terdapat pada puisi yang sedang dibaca. Tujuan adanya imajinasi ialah agar pembaca atau pendengar mampu memahami dan benar-benar mengerti makna dari puisi tersebut. Akan tetapi, tidak setiap karya sastra di dalamnya terdapat lapis metafisis seperti itu (Pradopo,2012:15).
Pada puisi di atas terdapat sifat metafisis di dalamnya berupa renungan dan pemikiran kritis tentang arti sebuah kehidupan. Menghidupkan pemikiran kritis tentang kehidupan setelah kematian (akhirat).















DAFTAR PUSTAKA

·         Pradopo, Rachmat Djoko. 2009. PENGKAJIAN PUISI . Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar